Tampilkan postingan dengan label Mari Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mari Belajar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juli 2013

CONGKLAK







Congklak is a traditional game known by various names throughout Indonesia. Usually in games, similar shells are used as seed congklak, also sometimes used whole grains from plants.

Congklak game performed ​​by two people. In their game board using the board called congklak and 98 (14 x 7) fruit seeds called congklak seeds or fruit congklak. Congklak boards generally made ​​of wood and plastic, while the seeds are made of shells, seeds, rocks, marbles or plastic. On board there are 16 pieces congklak holes consisting of 14 small holes facing each other and the 2 big holes on both sides. Every 7 small hole in the side of the player and the big hole in his right hand is considered as belonging to the player.

At the beginning of the game each small pit filled with seven seeds. Two of the players are confronted, one who can pick holes begin to be captured and put one into the hole on the right and so on. When the seeds out in a small pit that contains the seeds of others, he can take those seeds and proceed to fill, could run out in his huge hole so he can proceed with selecting a small hole in its side. when discharged at a small hole in the side so he stopped and took all the seeds on the opposite side. But when stopped at an empty hole in the side of the opponent then he stopped and did not get anything.

The game is considered complete when there is no more that can be dimabil beans (whole beans in a large hole both players). The winner is who gets the highest seed.
Share:

Senin, 01 Juli 2013

Selasa, 05 Maret 2013

FARMAKOGNOSI

Farmakognosi berasal dari dua kata Yunani yaitu Pharmakon (obat) dan Gnosis (ilmu/pengetahuan). Jadi farmakognosi adalah ilmu pengetahuan tentang obat, khususnya dari nabati, hewani dan mineral. Definisi yang mencakup seluruh ruang lingkup farmakognosi diberikan oleh Fluckiger, yaitu pengetahuan secara serentak berbagai macam cabang ilmu pengetahuan untuk memperoleh segala segi yang perlu diketahui tentang obat.

Sejarah Perkembangan Farmakognosi
Pada kurang lebih 2500 tahun sebelum masehi, penggunaan tanaman obat sudah dilakukan orang,  hal  ini dapat diketahui dari lempeng tanah liat yang tersimpan di Perpustakaan Ashurbanipal di Assiria,  yang memuat simplisia antara lain kulit delima, opium, adas manis, madu, ragi, minyak jarak. Juga orang Yunani kuno  misalnya  Hippocrates  (1446 sebelum  masehi),  seorang tabib telah mengenal kayu manis, hiosiamina, gentiana,  kelembak, gom   arab, bunga kantil dan lainnya.
Pada tahun 1737 Linnaeus, seorang ahli botani Swedia, menulis buku “Genera Plantarum” yang kemudian merupakan buku pedoman utama dari sistematik botani,  sedangkan farmakognosi modern  mulai dirintis oleh  Martiuss.  Seorang apoteker Jerman dalam bukunya “Grundriss Der Pharmakognosie Des Planzenreisches” telah menggolongkan simplisia menurut segi morfologi, cara- cara untuk   mengetahui kemurnian simplisia.
Farmakognosi mulai berkembang pesat setelah pertengahan abad ke 19 dan masih terbatas pada uraian makroskopis dan mikroskopis. Dan sampai dewasa ini  perkembangannya sudah sampai ke usaha- usaha isolasi, identifikasi dan juga teknik-teknik kromatografi untuk tujuan analisa kualitatif dan kuantitatif.

Ruang Lingkup Farmakognosi
Farmakognosi  adalah  sebagai  bagian  biofarmasi, biokimia dan kimia sintesa, sehingga  ruang lingkupnya menjadi luas seperti yang  diuraikan dalam definisi Fluckiger.  Sedangkan di Indonesia saat ini untuk praktikum Farmakognosi hanya  meliputi segi pengamatan makroskopis, mikroskopis dan organoleptis yang    seharusnya juga mencakup identifikasi, isolasi dan pemurnian setiap zat yang  terkandung dalam simplisia  dan bila perlu penyelidikan dilanjutkan ke arah sintesa. Sebagai contoh :  Chloramphenicol dapat dibuat secara sintesa total, yang sebelumnya hanya dapat diperoleh dari biakkan cendawan Streptomyces venezuela.

Alam memberikan kepada kita bahan alam darat dan laut berupa tumbuhan, hewan dan mineral yang jika diadakan identifikasi dan menentukan sistimatikanya, maka diperoleh bahan alam berkhasiat obat. Jika bahan alam yang berkhasiat obat ini dikoleksi, dikeringkan, diolah, diawetkan dan disimpan, akan diperoleh bahan yang siap pakai atau simplisia, disinilah keterkaitannya dengan farmakognosi.

Simplisia yang diperoleh dapat berupa rajangan atau serbuk. Jika dilakukan uji khasiat, diadakan pengujian toksisitas, uji pra klinik dan uji klinik untuk menentukan fitofarmaka atau fitomedisin ; bahan – bahan fitofarmaka inilah yang disebut obat. Bila dilakukan uji klinik, maka akan diperoleh obat jadi.

Serbuk dari simplisia jika diekstraksi dengan menggunakan berbagai macam metode ekstraksi dengan pemilihan pelarut , maka hasilnya disebut ekstrak. Apabila ekstrak yang diperoleh ini diisolasi dengan pemisahan berbagai kromatografi, maka hasilnya disebut isolat.
Jika isolat ini dimurnikan, kemudian ditentukan sifat – sifat fisika dan kimiawinya akan dihasilkan zat murni, yang selanjutnya dapat dilanjutkan penelitian tentang identifikasi, karakterisasi, elusidasi struktur dan spektrofotometri.
Proses ekstraksi dari serbuk sampai diperoleh isolat bahan obat dibicarakan dalam fitokimia dan analisis fitokimia. Bahan obat jika diadakan uji toksisitas dan uji pra klinik akan didapatkan obat jadi. Mulai dari bahan obat sampat didapatnya obat jadi dapat diuraikan dalam skema berikut :

Hubungan Farmakognosi Dengan Botani - Zoologi
Simplisia  harus mempunyai  identitas  botani – zoologi  yang  pasti, artinya  harus diketahui dengan tepat nama latin tanaman atau hewan dari mana  simplisia tersebut diperoleh, misalnya : menurut Farmakope Indonesia ditentukan bahwa untuk Kulit Kina harus diambil dari tanaman asal Cinchona succirubra, sedangkan jenis kina terdapat banyak sekali , yang tidak mempunyai kadar kina yang tinggi. Atas dasar pentingnya identitas botani – zoologi maka nama –nama tanaman  atau hewan dalam Farmakope selalu disebut nama latin dan tidak dengan nama   daerah, karena satu nama daerah seringkali  berlaku untuk lebih dari satu macam tanaman  sehingga dengan demikian nama daerah tidak selalu memberikan kepastian identitas. Dengan demikian menetapkan identitas botani – zoologi secara tepat adalah langkah pertama yang harus ditempuh sebelum  melakukan kegiatan-kegiatan lainnya dalam bidang farmakognosi.

Hubungan Farmakognosi Dengan Ilmu – Ilmu Lain 
Sebelum kimia organik dikenal, simplisia merupakan bahan utama yang harus tersedia di tempat meramu atau meracik obat dan  umumnya diramu atau diracik  sendiri oleh tabib yang memeriksa sipenderita,  sehingga dengan cara tersebut Farmakognosi  dianggap sebagai bagian dari Materia Medika. Simplisia diapotik kemudian terdesak oleh perkembangan galenika, sehingga persediaan simplisia di apotik digantikan dengan sediaan – sediaan galenik yaitu,  tingtur, ekstrak, anggur dan lain – lain.

Kemudian setelah kimia organik berkembang, menyebabkan makin  terdesaknya  kedudukan simplisia di apotik - apotik. Tetapi hal ini bukan berarti  simplisia tidak diperlukan lagi, hanya  tempatnya tergeser ke pabrik - pabrik  farmasi. Tanpa  adanya simplisia di apotik tidak akan terdapat sediaan-sediaan galenik, zat kimia  murni maupun sediaan bentuk lainnya, misalnya:  serbuk, tablet,  ampul, contohnya:  Injeksi Kinin Antipirin,  Secara sepintas Kinina antipirin dibuat secara sintetis tetapi dari sediaan tersebut hanya Antipirin saja  yang dibuat sintetis  sedangkan kinina hanya dapat diperoleh jika ada Kulit Kina, sedangkan untuk mendapatkan kulit kina yang akan  ditebang atau dikuliti adalah dari jenis Cinchona yang dikehendaki. Untuk memperoleh jenis Cinchona yang dikehendaki tidak mungkin diambil dari jenis Cinchona yang  tumbuh liar, sehingga harus ada cara pengumpulan dan perkebunan yang baik dan terpelihara. Dalam perkebunan ini farmakognosi erat hubungannya dengan ilmu-ilmu lain misalnya: Biokimia, dalam pembuatan zat-zat sintetis seperti Kortison, Hidrokortison dan lain - lainnya.
Dari contoh - contoh tersebut maka dapat diketahui bahwa ruang   lingkup Farmakognosi tidak terbatas pada pengetahuan tentang simplisia yang tertera dalam Farmakope, tetapi meliputi pemanfaatan alam  nabati- hewani dan mineral  dalam berbagai aspeknya di bidang farmasi dan Kesehatan.
Share:

Senin, 04 Maret 2013

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Mengenal Ilmu Kesehatan Masyarakat

Ilmu Kesehatan Masyarakat menurut Winslow adalah ilmu atau seni yang bertujuan untuk mencegah penyakit, memperpanjang umur, dan meningkatkan efisiensi hidup masyarakat melalui upaya kelompok-kelompok masyarakat yang terkoordinasi, perbaikan kesehatan lingkungan, mencegah dan memberantas penyakit menular, dan melakukan pendidikan kesehatan untuk masyarakat/perorangan.

Pengertian Sehat :
  1. Sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dengan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya (Perkin 1938)
  2. Sehat adalah suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dipunyainya (WHO 1957)
  3. Sehat adalah keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa oleh ahlinya tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda penyakit atau kelainan (White 1977)
  4. Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU Kesehatan No. 23 tahun 1992)
Menurut H.L Blum, ada 4 faktor yang bersama-sama mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat, yaitu:
  1. Kesehatan Lingkungan
  2. Perilaku
  3. Pelayanan Kesehatan
  4. Genetik

Perbedaan Pelayanan Kedokteran Dengan Pelayanan Kesehatan Masyarakat :

PELAYANAN KEDOKTERAN

  1. Tenaga pelaksananya terutama adalah para dokter
  2. Perhatian utamanya pada penyembuhan penyakit
  3. Sasaran utamanya adalah perseorangan atau keluarga
  4. Kurang memperhatikan efisiensi
  5. Tidak boleh menarik perhatian karena bertentangan dengan etika kedokteran
  6. Menjalankan fungsi perseorangan dan terikat dengan undang-undang
  7. Penghasilan diperoleh dari imbal jasa
  8. Bertanggung jawab hanya kepada penderita
  9. Tidak dapat memonopoli upaya kesehatan dan bahkan mendapat saingan
  10. Masalah administrasi amat sederhana

PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT
  1. Tenaga pelaksananya terutama ahli kesehatan masyarakat
  2. Perhatian utamanya pada pencegahan penyakit
  3. Sasaran utamanya adalah masyarakat secara keseluruhan
  4. Selalu berupaya mencari cara yang efisien
  5. Dapat manarik perhatian masyarakat misalnya dengan penyuluhan kesehatan
  6. Tenaga pelaksananya terutama ahli kesehatan masyarakat
  7. Penghasilan berupa gaji dari pemerintah
  8. Bertanggung jawab kepada seluruh masyarakat
  9. Dapat memonopoli upaya kesehatan
  10. Menghadapi berbagai persoalan kepemimpinan 
Sumber :
http://farmasix.blogspot.com/2012/06/ilmu-kesehtan-masyarakat.html 
Share:

Kamis, 07 Juni 2012

Macam-Macam Tenses


A.  Present
a.   Simple Present Tense
Sesuatu yang terjadi terus menerus, selalu atau biasa terjadi.

Pola Kalimat
Berkata Kerja
 (+) Subject + V1 (s/es) + Object

(-) Subject + do/does not + V1 + Object

(?) Do/does + Subject + V1 + Object

 Tidak Berkata Kerja 
(+) Subject + to be (am, is, are)  + noun, adjective, adverb

(-) Subject + to be (am, is, are)  + not + noun, adjective, adverb

(?) To be (am, is, are)  + Subject + noun, adjective, adverb

adverb of frequency :
  • always
  • often
  • usually
  • never
  • seldom
  • sometime
  • generally
  • normally
  • occasionally
  • hardly
  • rarely
adverb of time:
  • every day
  • every week
  • every morning
  • once a week
  • twice a day
  • three times a year
  • weekly
  • monthly
b.   Present Continuous Tense
Sesuatu yang terjadi atau berlangsung pada saat dibicarakan.

Pola Kalimat
(+) Subject+to be (is/am/are)+V-ing+object, adjective, adverb

(-) Subject+to be+not+V-ing+object, adjective, adverb

(?) To be+subject+V-ing+object, adjective, adverb

           
adverb of time :
  • now
  • at present
  • at this moment
  • right now 

kata kerja gerak:
  • go
  • come
  • do
  • walk
  • swim 
  • run
 
c.    Present Perfect Tense
Sesuatu yang terjadi pada waktu lampau dan masih ada hubungannya dengan sekarang. Akibat-akibat kejadian itu masih terasa atau masih ada sisa-sisa bekas kejadian yang belum lama terjadi.

Pola Kalimat
(+) Subject+have/has+been/Verb-3+object, adjective, adverb

(-) Subject+have/has+not+been/V-3+object, adjective, adverb

(?) Have/has+Subject+V-3+object, adjective, adverb

Kata keterangan yang sering disisipkan di antaranya:
  • Just
  • already
  • once
  • yet
  • not yet
  • since
  • for

d.   Present Perfect Continuous Tense
Sesuatu kejadian yang telah terjadi dan mulai dari masa lampau dan masih berlangsung sampai saat ini

Pola Kalimat
(+) Subject+have/has+been+Verb-ing+object, adjective, adverb

(-) Subject+have/has+not+been+V-ing+object, adjective, adverb

(?) Have/has+been+Subject+V-ing+object, adjective, adverb

Biasanya disisipi keterangan:
  • Since
  • For
  • since…until

B.   Past
a.   Simple Past Tense
Situasi atau satu kejadian yang terjadi pada titik waktu di masa lampau.

Pola Kalimat
(+) Subject+Verb-2+ object, adjective, adverb

(-) Subject+did not+V-1+object, adjective, adverb

(?) Did+Subject+Verb-1+object, adjective, adverb

kata keterangan waktu:
  • yesterday
  • last week
  • last month
  • a week ago

b.   Past Continuous Tense
Situasi yang sedang terjadi pada waktu lampau

Pola Kalimat
(+) Subject+be (was/were)+V-ing+object, adjective, adverb

(-) Subject+was/were+not+V-ing+object, adjective, adverb

(?) Was/were+Subject+V-ing+object, adjective, adverb

c.    Past Perfect Tense
Sesuatu yang sudah terjadi, sebelum kejadian lain terjadi pada waktu lampau

Pola Kalimat
(+) Subject+had+been/V-3+object, adjective, adverb

(-) Subject+had+not+been/V-3+object, adjective, adverb

(?) Had+subject+V-3+object, adjective, adverb

d.   Past Perfect Continuous Tense
Suatu kejadian yang sangat lama, dan masih ada hubungannya dengan saat tertentu pada waktu lampau.

Pola Kalimat
(+) Subject+had+been+V-ing+object, adjective, adverb

(-) Subject+had+not+been+V-ing+object, adjective, adverb

(?) Had+subject+V-ing+object, adjective, adverb

C.   Future
a.   Simple Future Tense
Suatu kegiatan yang akan dilakukan atau peristiwa yang mungkin atau akan terjadi.

Pola Kalimat
(+) Subject+will/shall+be/Verb-1+object, adjective, adverb

(-) Subject+will/shall+not+be/Verb-1+object, adjective, adverb

(?) Will/shall+Subject+be/V-1+object, adjective, adverb

b.   Future Continuous Tense
Suatu kejadian yang sedang berlangsung pada titik waktu tertentu di masa yang akan datang

Pola Kalimat
(+) Subject+will/shall+be+Verb-ing+object, adjective, adverb

(-) Subject+will/shall+not+be+Verb-1+object, adjective, adverb

(?) Will/shall+Subject+be+V-1+object, adjective, adverb

c.    Future Perfect Tense
Suatu kejadian yang diperkirakan tuntas di masa yang akan datang

Pola Kalimat
(+) Subject+will/shall+have+V-3+object, adjective, adverb

(-) Subject+will/shall+not+have+Verb-3+object, adjective, adverb

(?) Will/shall+Subject+have+V-3+object, adjective, adverb

Kata keterangan:
  • by then
  • by that tim
  • in five hours
  • in six years

d.   Future Perfect Continuous Tense
Suatu kejadian yang diperkirakan masih berlangsung di masa yang akan datang

Pola Kalimat
(+) Subject+will/shall+have+been+V-ing+object, adjective, adverb

(-) Subject+will/shall+not+have+been+Verb-ing+object, adj, adverb

(?) Will/shall+Subject+have+been+V-ing+object, adjective, adverb

D.  Past Future
a.   Simple Past Future Tense

Pola Kalimat
(+) Subject+should/would+Verb-1

(-) Subject+should/would+not+V-1

(?) Would/should+Subject+V-1

b.   Past Future Continuous Tense

Pola Kalimat

(+) Subject+should/would+be+Verb-ing

(-) Subject+should/would+not+V-1

(?) Would/should+Subject+V-1

c.    Past Future Perfect Tense

Pola Kalimat

(+) Subject+should/would+have+Verb-3

(-) Subject+should/would+not+V-1

(?) Would/should+Subject+V-1

d.   Past Future Perfect Continuous Tense

Pola Kalimat

(+) Subject+should/would+have+been+Verb-ing

(-) Subject+should/would+not+V-1

(?) Would/should+Subject+V-1

Share: